Posted by : Unknown October 27, 2016

Laporan Praktikum                             Hari/Tanggal  : Kamis/14 dan 21 April 2016
Biokimia Umum                                  Waktu            : 15.00-18.00 WIB
                                                            PJP                 : Syaefudin, SSi, MSi
                                                            Asisten           : Rizki Rinda
                                                                                     M Fakhri R
                                                                                     M Maftuchin Sholeh
                                                                                     Annisa Dhiya Athiyyah K
                                                                                               





ENZIM

Kelompok 1
Ita Lestari Telaumbanua                                   B04140189
Fathan Abdul Aziz                                           B04150059
Faza Adriani Nurfazri                                       B04150153

























FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016



PENDAHULUAN
Saliva merupakan cairan rongga mulut yang berfungsi antara lain melindungi jaringan dalam rongga mulut dengan cara pembersihan secara mekanis untuk mengurangi akumulasi plak, lubrikasi, elemen gigi-geligi, pengaruh dapar, agregasi bakteri yang dapat menghambat kolonisasi mikroorganisme aktivitas antibakteri, pencernaan, retensi kelembapan, dan pembersihan makanan. Fungsi perlindungan ini sangat dipengaruhi oleh perubahan – perubahan yang berhubungan dengan komposisi maupun viskositas, derajat keasaman, serta susunan ion dan proteinnya (Anwar et al. 2007). Saliva sebagian besar yaitu sekitar 90 persennya dihasilkan saat makan yang merupakan reaksi atas rangsangan yang berupa pengecapan dan pengunyahan makanan. Di dalam mulut, saliva adalah unsur penting yang dapat melindungi gigi terhadap pengaruh dari luar, maupun dari dalam rongga mulut itu sendiri. Saliva juga mampu melakukan aktivitas antibakterial karena mengandung beberapa komponen yang antara lain adalah lisosim, sistem laktoperoksidase-isitiosianat, laktoferin, dan imunoglobulin ludah (Soesilo et al. 2005).
Stimulus dalam sekresi saliva berasal dari dalam rongga mulut. Stimulus tersebut terdiri atas stimulus mekanik dan stimulus kimiawi. Stimulus mekanik tampak dalam bentuk gerak pengunyahan, sedangkan stimulus kimiawi tampak dalam bentuk efek kesan pengecapan. Kedua jenis stimulus tersebut membangkitkan kegiatan refleks salivasi. Proses mengunyah merupakan stimulus mekanik yang merangsang peningkatan sekresi saliva, sedangkan pengecapan merupakan informasi sensorik yang berhubungan dengan stimulus kimiawi yang dapat meningkatkan kecepatan aliran saliva. Stimulus kimiawi yang bersifat asam merupakan stimulus yang paling kuat dalam memberikan rangsang untuk mensekresikan saliva (Haroen 2002). Faktor lain yang mempengaruhi sekresi saliva yaitu faktor psikologi, usia lanjut, meningkatnya kadar urea plasma serta pemberian obat komplikasi dan jenis kelamin (Utoyo et al. 2016).
Derajat keasaman (pH) saliva normal berkisar antara 6.7 – 7.3. Derajat keasaman dan kapasitas dapar saliva dapat dipengaruhi oleh irama siang dan malam, diet, dan perangsangan kecepatan sekresi. Volume saliva setiap 24 jam berkisar antara 500-600 ml. Jumlah saliva yang disekresikan dalam keadaan tidak terstimulasi sekitar 0.32 ml/menit, sedangkan dalam keadaan terstimulasi mencapai 3-4 ml/menit (Anwar et al. 2007).
Saliva disekresi oleh 3 pasang kelenjar ludah, yaitu kelenjar parotis, submaksilaris, dan sublingualis. Sekitar 99.3% saliva adalah air dan sisanya zat padat yang berupa zat organik dan anorganik. Zat organik tersebut antara lain musin yang berperan sebagai pelicin rongga mulut untuk menelan dan enzim ptialin (salivary amylase) yang dapat mengkatalis hidrolisis atau pemecahan makro molekul amilum (Sumardjo 2009).
Amilase merupakan suatu enzim yang terkandung dalam saliva. Amilase bekerja dalam mengkatalisis pemecahan pati menjadi gula. Enzim amilase terbagi menjadi endoamilase dan eksoamilase. Endoamilase dikenal sebagai α-amilase, mengatalis pemutusan ikatan glikosidik α-1,4 molekul amilum secara acak dari dalam. Hasil hidrolisisnya adalah dekstrin. Eksoamilase dikenal sebagai β-amilase, mengatalisis pemutusan ikatan glikosidik α-1,4 molekul amilum dari ujung molekul yang tidak tereduksi. Jadi, pemutusannya dari arah luar. Enzim ini tidak memutus ikatan glikosidik β-1,4 dan ikatan glikosidik α-1,6. Enzim Amilase merupakan komponen yang sangat penting pada proses pencernaan makanan. Enzim ini mengubah karbohidrat menjadi gula yang pada akhirnya diubah menjadi ATP (Sumardjo 2009).
Faktor yang memepengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH ,keasaman dan konsentrasi substrat dan kofaktorInhibitor enzim. Suhu optimum untuk enzim amilase berkisar 100C-380C, sebagian enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai lebih dari 600C dan mengalami denaturasi. Selain suhu faktor lain yang juga berperan dalam aktivitas enzim adalah pH. Enzim menjadi nonaktif bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian besar enzim dapat bekerja paling efektif pada kisaran pH 6.8 di luar pH optimum tersebut, kenaikan atau penurunan pH menyebabkan penurunan aktivitas enzim dengan cepat (Margaretha 2003).
Praktikum bejudul Enzim. Praktikum enzim bertujuan menentukan sifat dan susunan air liur. Tujuan lainnya dari praktikum enzim yaitu menentukan sifat dan susunan getah lambung.




METODE
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum mata kuliah biokimia berjudul Enzim. Pratikum ini dilakukan pada hari kamis tanggal 14 dan 21 April 2016. Praktikum bertempat di Laboratorium Pendidikan Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ialah gelas piala, pipet volumetrik, pipet tetes, tabung reaksi, rak tabung reaksi, penangas air, bulp, glass wool, stopwatch, kertas saring, corong, penjepit tabung reaksi,papan porselen, lakmus FF, dan lakmus MO. Adapun bahan-bahan yang digunakan ialah air liur atau saliva, asam asetat, Na-karbonat 0,1%, akuades, larutan kanji 1%, HCL, pereaksi iodium, pereaksi Benedict, asam sulfat pekat, HNO­3 10%, AgNO3 2%, HCL 10%  BaCL2, larutan urea 10%, pereaksi molibdad dan larutan ferosulfat khusus.

Prosedur Percobaan

Sifat Fisik dan Susunan Air Liur
Pembuatan sampel enzim amilase, rongga mulut dibersihkan dengan cara berkumur-kumur sebanyak 3 kali. Kertas saring yang dibasahi asam asetat encer (untuk menstimulasi air liur) dimasukan ke dalam mulut. Air liur dikumpulkan sampai 50 mL dan emulsi yang terbentuk disaring dengan glass wool. Air liur yang telah dikumpulkan akan digunakan untuk uji reaksi dengan lakmus PP dan MO, uji terhadap pereaksi Biuret, Millon dan Molisch, uji terhadap klorida, sulfat dan fosfat, serta uji terhadap Musin.
Uji reaksi dengan lakmus FF dan MO, sebanyak dua buah tabung reaksi disiapkan dan sebanyak 1 tetes saliva dipipet ke dalam papan uji. Sampel pertama diberi 3 tetes indikator fenolftalein dan sampel kedua diberi 3 tetes indikator metil orange. Kedua tabung diuji keasaman dan kebasaannya dengan kertas lakmus.
Uji terhadap pereksi Biuret, sebanyak 1 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian ditambahkan beberapa tetes pereaksi Biuret. Pereaksi biuret ditambahkan sampai larutan berubah warna menjadi violet.
Uji terhadap pereaksi Molisch, sebanyak 1 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sebanyak ditambahkan 2 tetes peraksi Molisch dan 1.5 mL H2SO4 (P) (dilewatkan melalui dinding). Cincin berwarna ungu menunjukkan hasil (+), cincin berwarna coklat atau kuning menunjukkan hasil (-).
Uji klorida, sebanyak 1 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian ditambahkan 1 mL AgNO3 2% dan 1 mL HNO3 10%. AgNO3 2%  dan HNO3 10% ditambahkan sampai terbentuk endapan berwarna putih.
Uji sulfat, sebanyak 1 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian ditambahkan 1 mL BaCl2 dan 1 mL HCl 10%. BaCl2 dan HCl 10% ditambahkan sampai terbentuk endapan berwarna putih.
Uji fosfat, sebanyak 1 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian ditambahkan 1 mL urea 10%, 1 mL pereaksi Molibdat dan 1 mL ferosulfat sampai larutan berubah warna menjadi biru (+). Jika larutan berwarna kuning, maka hasil negatif.
Uji musin, sebanyak 2 mL sampel air liur (saliva) dipipet ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian ditetesi asam asetat pH 4,5. Asam asetat ditambahkan  sampai terbentuk endapan.
Pengaruh suhu pada aktivitas amilase air liur, sebanyak 4 buah tabung reaksi disiapkan dan masing-masing tabung diisi dengan 2 mL sampel air liur (saliva) dan 2 mL aquades. Tabung dikocok dan masing-masing disimpan pada suhu yang berbeda. Tabung 1 diletakkan di dalam penangas es bersuhu 10˚C, tabung 2 diletakkan pada suhu ruang 25˚C, tabung 3 dan 4 diletakkan di dalam penangas air yang bersuhu 37˚C dan 100˚C selama 15 menit. Setelah itu pada masing-masing tabung ditambahkan 2 mL larutan kanji 1%. Larutan dikocok dan dikembalikan ke masing-masing kondisi sebelumnya selama 10 menit. Kemudian isi tabung dipindahkan menjadi dua bagian, satu bagian isi tabung diuji dengan peraksi yodium sedangkan bagian yang lain diuji menggunakan pereaksi Benedict.
Pengaruh ph terhadap aktivitas amilase air liur, sebanyak empat tabung reaksi masing-masing di isi dengan 1 mL HCL, 1 mL asam asetat, 1 mL Na-karbonat 0,1% dan 1 mL akuades. Nilai pH dari masing-masing tabung adalah 1, 5, 7, dan 9. Kemudian tambahkan larutan kanji 1% dan 1 mL air liur pada tiap-tiap tabung. Lalu tabung dikocok dan pindahkan ke penangas air bersuhu 37 ̊ C selama 15 menit. Selanjutnya, isi tabung dipindahkan menjadi dua bagian, satu bagian tabung diuji dengan pereaksi Yodium dan bagian yang lain diuji dengan pereaksi Benedict.
Hidrolisis pati oleh amilase air liur, sebanyak 2 mL air liur dibubuhkan kedalam larutan pati atau kanji 1% kemudian dikocok. Lalu tabung disimpan pada penangas air dengan suhu 37 ̊C. Selanjutnya setiap selang  0,5 menit pindahkan satu tetes bahan percobaan ke papan persolen dan ditetesi dengan pereaksi Yodium. Percobaan ini dilakukan sampai didapat perubahan warna dari biru, kecoklatan, hingga tak berwarna atau warna larutan sama dengan warna Yodium. Kemudian tambahkan peraksi Benedict dan bandingkan hasilnya.
Hidrolisis pati mentah oleh amilase air liur, sebanyak 5 mL akuades ditambahkan pada tabung reaksi yang telah terisi sedikit tepung pati. Tabung kemudian dikocok. Tabung ditambahkan 10 tetes saliva dan disimpan pada suhu 37 ̊ C selama 20 menit. Isi tabung disaring dan diuji filtratnya terhadap produk hidrolisis pati oleh amilase.




HASIL DAN PEMBAHASAN

Saliva mengandung komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Komponen tersebut terdiri dari zat organik dan anorganik. Zat organik antara lain yaitu musin dan ptialin atau enzim amilase. Zat anorganik dalam saliva berupa ion-ion. Ion-ion utama yang ditemukan dalam saliva adalah kalsium dan fosfat yang berperan penting dalam pembentukan kalkulus. Ion-ion lain yang memiliki jumlah yang lebih kecil terdiri dari sodium, potasium, klorida, sulfat dan ion-ion lainnya. Saliva terdiri atas 99.24% air dan 0.58% terdiri atas ion-ion Ca2+, Mg2+, Na+, K+, PO43-, Cl-, HCO3-, SO42- (Maryati 2000).
Derajat keasaman (pH) saliva normal berkisar antara 6.7 – 7.3. Derajat keasaman dan kapasitas dapar saliva dapat dipengaruhi oleh irama siang dan malam, diet, dan perangsangan kecepatan sekresi. Volume saliva setiap 24 jam berkisar antara 500-600 ml. Jumlah saliva yang disekresikan dalam keadaan tidak terstimulasi sekitar 0.32 ml/menit, sedangkan dalam keadaan terstimulasi mencapai 3-4 ml/menit (Anwar et al. 2007).
Prinsip uji Moslich adalah heksosa atau pentosa mengalami dehidrasi oleh pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksimetilfurfural atau furfural dan kondensasi aldehida yang terbentuk ini dengan α-naftol membentuk senyawa yang berwarna khusus untuk polisakarida dan disakarida menjadi heksosa dan pentosa, dan diikuti oleh proses dehidrasi dan proses kondensasi. Hasil positif timbul jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furtural atau hidroksimetil furfural dengan α-naftol dengan pereaksi Moslich. Warna hijau menunjukkan reaksi negatif (Sumardjo 2009).
Prinsip uji biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus –CO dan –NH berwarna ungu dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa. Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Uji biuret digunakan untuk mengetahui adanya ikatan peptida pada sampel (Carpette 2005).



Tabel 1 Sifat dan susunan air liur
Uji
Hasil
Pengamatan
Gambar
FF
+
Putih bening (tidak berwarna)
MO
+
Jingga
Biuret
+
Ungu
Molisch
+
Ungu
Klorida
+
Terdapat endapan putih
Musin
+
Terdapat endapan putih
Sulfat
+
Putih keruh
Fosfat
-
Kuning
Keterangan:     (+) : positif terhadap pengujian
                        (-)  : negatif terhadap pengujian

Uji fenolftalein (FF) dan metil oranye (MO) digunakan untuk mencari pH dari saliva. Dari uji ini dapat diketahui apakah saliva bersifat asam atau basa. FF merupakan pereaksi yang tak berwarna pada pH asam, sedangkan MO merupakan pereaksi yang berwarna orange pada pH asam. Fenolftalein (FF) memiliki rentang pH 8.0 – 9.6 dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah muda. Sementara itu, metil orange (MO) memiliki rentang pH 3.1 – 4.4 dengan perubahan warna dari merah menjadi kuning (Day dan Underwood 2001).
Prinsip uji Klorida adalah mencampurkan saliva dengan AgNO3 dalam suasana asam sehingga terbentuk endapan putih. Endapan putih pada hasil pencampuran uji Klorida merupakan AgCl yang mengendap. Praktikan menggunakan HNO3 untuk membuat suasana menjadi asam. Hasil yang diamati praktikan ini sudah sesuai dengan literatur yang dirujuk, bahwa air liur mendapat sedikit sumbangan Cl yang berasal dari cairan gigi. Ketika larutan uji dicampurkan dengan AgNO3 dalam suasana asam akan membentuk endapan putih atau AgCl. Uji fosfat merupakan uji untuk mengetahui adanya ion fosfat pada suatu larutan. Hasil uji fosfat bereaksi negatif dengan terbentuknya warna hijau kekuningan dan bereaksi positif dengan terbentuknya warna biru. Uji sulfat dilakukan untuk menguji kandungan sulfat dalam saliva. Pengujian sulfat ini menggunakan BaCl2 yang akan membentuk BaSO4 yang memiliki kelarutan rendah sehingga akan mengakibatkan terbentuknya endapan dalam larutan yang diasamkan. Uji musin dilakukan untuk menguji keberadaan musin di dalam saliva. Keberadaan sulfat dan fosfat pada air liur tidak mutlak. Adanya hal ini bergantung pada makanan yang dikonsumsi (Maryati 2000).
Pada praktikum enzim uji FF dan MO menunjukan bahwa saliva bersifat asam. Pada uji FF sampel berwarna putih bening dan pada uji MO berwarna jingga. Uji biuret, molisch, musin, klorida, dan sulfat menunjukan reaksi positif. Reaksi positif tersebut menunjukan bahwa saliva mengandung protein, gula pereduksi, musin, klorida, dan sulfat. Uji fosfat menunjukan reaksi negatif yang berarti bahwa saliva tidak mengandung fosfat. Hal tersebut sesuai dengan literatur bahwa saliva mengandung komponen komponen yang di uji dan saliva bersifat asam.

Tabel 2 Pengaruh suhu pada aktivitas amilase air liur
Suhu
(o C)
intensitas
Perubahan warna
gambar
iod
benedict
iod
benedict
iod
benedict
10
kuning
hijau
-
+
Ruang
kuning
hijau
-
+
37
kuning
hijau
-
+
100
hitam
Biru
+
-
Keterangan:     (+) : positif terhadap pengujian
                        (-)  : negatif terhadap pengujian
Hampir semua enzim merupakan protein yang sifatnya fungsional, bukan struktural, namun tidak semua protein bertindak sebagai enzim. Dua sifat penting enzim adalah memiliki daya katalitik yang sangat besar dan sangat spesifik. Faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, pH, dan suhu (Sumardjo 2009).
Suhu merupakan faktor penting dalam aktivitas enzim. Kecepatan suatu reaksi enzimatik meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu pada suatu titik tertentu. Kecepatan reaksi enzimatik akan menurun drastis jika di luar suhu  aktivitas kerjanya menjadi nol. Pemanasan atau pada suhu tinggi enzim merupakan suatu protein yang akan mengalami sehingga denaturasi. Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungan terlalu rendah atau terlalu tinggi. Hasil pada tabel diatas menunjukkan hasil positif pada suhu 10 o C, suhu ruang, suhu 37 o C pada uji benedict, sedangkan pada uji iod hasilnya negatif. Suhu 100 o C positif pada uji iod dan negatif pada uji benedict. Hasil positif menunjukkan adanya aktivitas enzim.

Tabel 3 Pengaruh pH pada aktivitas amilase air liur
Larutan
intensitas
Perubahan warna
gambar
iod
benedict
iod
benedict
iod
benedict
Hcl 0,1 %
biru
pekat
biru
+
-
Asam asetat 0,1 %
biru pekat
biru
+
-
Aquades
kuning
hijau
-
+
Na-karbonat 0,1 %
kuning
hijau
-
+
Keterangan:     (+) : positif terhadap pengujian
                        (-)  : negatif terhadap pengujian

Tabel 4 Titik Akromatik Amilase Saliva
Sampel
Titik Akromatik
Hasil (I)
Perubahan Warna  (I)
Gambar
Pati Matang
30 detik
++
Coklat
1 menit
+
Kuning dengan sedikit kehitaman
1,5 menit
-
Kuning kecoklatan
2 menit
-
Kuning kecoklatan
2,5 menit
-
Kuning pekat
3 menit
-
Kuning agak pekat
3,5 menit
-
Kuning cerah
Pati matang yang dipanasi + benedik
+
Hijau kekuningan dan endapan
Pati Mentah
0 detik
+++
Hitam pekat
30 detik
+++
Hitam
1 menit
++
Kuning kehitaman
1,5 menit
++
Kuning kehitaman
2 menit
++
Kuing kehitaman
2,5 menit
++
Hitam sedang
3 menit
+
Hitam sedikit
3,5 menit
+
Hitam sedikit
4 menit
+
Kuning kecoklatan
4,5 menit
+
Kuning kecoklatan dengan sedikit hitam
5 menit
+
Kuning coklat
5,5 menit
+
Kuning sedikit hitam
6 menit
+
Sedikit hitam
6,5 menit
+
Sedikit hitam
7 menit
+
Coklat sedikit
7,5 menit
+
Kuning
8 menit
-
Kuning cerah
Pati mentah + dengan benedict
Tidak dilakukan
Keterangan: (+) Iod  : mengandung pati           (+) benedict: mengandung gula pereduksi
        (-) Iod   : tidak mengandung pati  (-)  benedict: tidak mengandung gula
       Pereduksi
Pati yang digunakan adalah pati matang, pati yang sudah mengalami proses pemanasan sebelumnya. Pati yang sudah matang selanjutnya di campurkan dengan saliva yang mengandung amilase dan mengalami pemanasan dengan suhu 37oC. Dalam percobaan didapatkan hasil bahwa warna saat tiga puluh detik dan satu menit berwarna coklat saat ditetesi iod, namun ketika sudah satu setengah menit sampel langsung berubah menjadi kuning. Seharusnya pati matang akan mengalami perubahan dari kehitaman karena masih mengandung pati dilanjutkan kecoklat dan kuning. Dari hasil menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan gagal, hal ini dapat dikarenakan kesalahan paralax dan dari praktikan. Kesalahan paralax yaitu pada alat yang digunakan masih tersisa senyawa kimia lain sehingga tercampur dengan sampel. Kesalahan praktikan adalah saat melakukan uji, praktikan tidak langsung memasukkan sampel ke tampat pemanasan ketika sudah tercampur sempurna sehingga hasilnya tidak  seperti literatur. Ketika sampel yang sudah dipanasi titetesi dengan larutan benedik diperoleh hasil positif yang ditandai dengan warna hijau kekuningan dan terdapat endapan.
Pati mentah merupakan pati yang tidak megalami proses pemanasan.  Dalam percobaan hidrolisis pati mentah dengan amilase air liur dilakukan dengan cara mencampurkan pati mentah satu sudip kedalam tabung reaksi ditambahkan dengan saliva yang mengandung amilase sebanyak 2 mL tanpa ada penambahan aquades dan penyaringan. Hal ini dikarenakan pada pati mentah yang di tambahkan aquades lalu disaring lalu ditambahkan iod hasilnya menjadi negatif tidak mengalami perubahan warna menjadi hitam. Campuran air liur dengan pati selanjutnya mengalami pemanasan dengan suhu 37oC dan setiap 30 detik sampel diambil dan ditetesi iod. Dari hasil percobaan di dapatkan hasil selama delapan menit pemanasan dengan suhu 37oC  menghasilkan warna hitam pekat saat masih tiga puluh detik dan pada waktu ke delapan menit berubah menjadi kuning. Warna hitam pada saat ditetesi iod menunjukkan bahwa reaksi positif dan mengandung pati  karena pati belum terhidrolisis oleh amilase. Sedangkan warna kuning menunjukkan saat iod gagal merubah warna substratnya atau disebut dengan titik akromatik (Agarwal et a.l 2007). Percobaan pati mentah terjadi perubahan warna yang sedikit berbeda dari literatur, yang seharusnya perubahan akan berurut setelah hitam menjadi coklat dan selanjutnya kuning, namun pada percobaan warna hitam ke coklat dan kembali ke hitam lagi. Hal ini di karenakan karena campuran tidak homogen sehingga menggumpal di bagian bawah tabung. Jadi ketika diambil sampel pati yang didasar terambil sehingga warna kembali ke hitam lagi. Fungsi yodium dalam uji adalah untuk mengetahui polisakarida. Prinsipnya uji yodium adalah  mengetahui kandunga polisakarida  sepertinya adanya dekstrin, amilum dan pati pada sampel. Pati yang ditetesi dengan iodium akan menghasilkan warna hitam, semakin pekat warna yang dihasilkan maka semakin besar kandungan polisakaridanya (Muchtadi 2009).
Pada pati mentah tidak diuji dengan benedik karena sampel yang diuji habis pada saat titik akromatiknya. Dari titik akromatik pati matang selama tiga setengah menit dan pati mentah delapan menit diperoleh bahwa pati matang lebih cepat terhidrolisis dari pada pati yang mentah.



SIMPULAN
Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki sifat asam. Komponen komponen yang terdapat dalam saliva yaitu zat organik dan anorganik. Zat organik antara lain yaitu musin dan ptialin atau enzim amilase. Zat anorganik dalam saliva berupa ion-ion. Zat anorganik yang terdapat dalam saliva yaitu sulfat, klorida, dan fosfat. Saliva juga engandung protein, protein dapat dideteksi karena adanya enzim amilase yang berupa protein.




DAFTAR PUSTAKA
Agarwal GR, Agarwal OP, Agarwal K. 2007. Textbook of Biochemistry Fourth Edition. Meerut (IN): GOEL Publishing House.
Anwar DA, Supratinah AI, Handjani J. 2007. Efek kumur teh hijai (Camellia sinensis) terhadap derajat keasaman dan volume saliva penderita gingivitis. Indonesian Journal of Dentistry. 14(1) : 22-26.
Carpette. 2005. An Introduction to Practical Biochemistry. Great Britany (UK): Mc Graw Hill Book Company.
Day RA, Underwood AL. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta (ID): Erlangga.
Haroen ER. 2002. Pengaruh stimulus pengunyahan dan pengecapan terhadap kecepatan aliran dan pH saliva. J Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. 9(1) : 29-34.
Margaretha M. 2003. Penapisan dan karakteristik sejumlah isolat bakteri thermofilik amilolitik [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Maryati S. 2000. Sistem Pencernaan Makanan. Jakarta (ID): Erlangga.
Muchtadi D. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung (ID): Alfabet.
Soesilo D, Santoso RE, Diyatri I. 2005. Peranan sorbitol dalam mempertahankan kestabilan pH saliva pada proses pencegahan karies. J Kedokteran Gigi. 38(1) : 25-28.
Sumardjo D. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksata. Jakarta (ID): EGC.

Utoyo B, Yuwono P, Kusumawati WT. Pengaruh stimulasi pemberian tablet hisap vitamin c terhadap peningkatan sekresi saliva pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisadi rs pku muhammadiyah gombong. J Ilmiah Kesehatan Keperawatan. 12 (1) : 13-19.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

DMCA.com Copyright © 2013 Enjoy The Pain - Powered By Blogger - Editing By Jaringan Fathan